waktu ku kecil dulu, aku selalu merasa ingin cepat tumbuh besar dan dewasa seperti orang-orang dewasa yang ku lihat. difikiranku dewasa adalah waku paling bahagia menjalani hidup, sesimpel mereka gak harus minta izin untuk keluar rumah, atau mereka bisa menentukan pilihan mereka sendiri tanpa didikte atau diatur, tapi ternyata hal sesimpel itu bukan hal yang bisa membuat orang dewasa bahagia hahahahaha. kebalikannya, orang dewasa melihat anak kecil adalah masa yang paling bahagia dalam menjalani hidup, karena tidak harus mikir bahwa besok harus makan apa?, cicilan ini itu, dan bagaimana harus terus berahan hidup. belum lagi meniti karir yang bisa menentukan harga diri mereka di mata orang dewasa lainnya, huh....... ternyata dewasa tidak semenyenangkan seperti yang kufikir dulu.
tapiiiii.... ngomong-ngomong soal dewasa, apa si sebenarnya dewasa itu? tumbuh menjadi besar, tegap, dan berumur? aku rasa tidak juga, buktinya ada beberapa orang yang pernah bilang "kamu orangnya dewasa ya", (dalam obrolan dengan orang yang baru mereka kenal). jadi dewasa itu perspektif bukan? ternyata deskripsi dewasa bukan disematkan hanya untuk orang yang sudah tumbuh besar, secara fisik dan umur, tapi orang yang bisa bersikap dalam berbagai situasi. misalnya gini, kamu tau kalo kamu berasal dari keluarga yang kurang mampu, tapi kamu memaklumi keadaan ekonomi orangtua mu untuk tidak memaksa membeli keinginanmu. atau contoh lain, kamu memilih untuk mengalah dalam berdebat dengan orang yang lebuh tua dari mu. jadi menurutku dewasa itu bisa menyusaikan sikap dalam segala situasi dan kondisi.
tapi semakin kita bertumbuh kita juga dipaksa untuk "dewasa" bener gak? ya iyalah, gak makesanse aja kalo badan gede tapi sikap kayak anak kecil hahahahha.
menjadi dewasa itu memang berat, tapi apa sih emangnya yang berat dari menjadi dewasa? mencari uang dengan karir yang bagus?, atau mencari pasangan hidup sesuai typemu? hmmmmm......
menurutku gak ada yang berat dari keduanya, kamu tau gak yang buat berat itu apa? yang berat itu memenuhi ekspektasi orang lain, takut dikatai soal karir, soal pasangan dll. sebenernya mereka yang sering mengomentari mu itu tidak begitu perduli, mereka hanya melepaskan hasrat mereka karena iri dengki. aku ingatkan ya, kita sebagai manusia hanya bisa berusaha, soal hasil itu milik Allah. gak papa juga gak jadi apa-apa, asal jangan menyuusahkan, gak papa terlambat menikah, asal jangan menyusahkan. hidup itu pilihan, hanya kita yang akan menanggung konsekuesi dari apa yang kita pilih. emang kalo kita memutuskan nikah muda, biar kelihatan laku keras mereka ikut bantu mengurus rumahtangga kita? enggakan? close your ear, lakukan apapun yang kamu mau dengan catatan tidak merugikan orang lain, dan melanggar aturan agama. kamu mau jadi apa aja itu pilihannmu, kamu mau nikah diumur berapa aja it's oke itu pilihanmu.
tapi.......gimana caranya mengontrol hati dari perkataan orang-orang yang suka menghakimi? aku juga sebenernya butuh tips itu hehe..... eh tapi aku sudah menemukan caranya, mau tau?
ya aku menghindari untuk bertemu orang yang suka menanyakan dan mengomentari hidupku. kita memang tidak boleh memutuskan tali silaturahmi, tidak bertemu bukan berarti memutus tali silaturahmi ya, masih banyak cara untuk bersapa, misal dari sosial media.
oke pesanku sebagai orang yang memasuki fase dewasa, teruslah berjuang, sayangi dirumu, percaya pada dirimu, karena jika bukan kamu siapa lagi yang kamu harapkan untuk melakukan itu kpd dirimu? percayalah suatu saat kamu akan menjadi apa yang kamu mau, meski kadang tidak sesuai rencana tapi pasti kamu akan memetik hasil nya. jangan pernah membandingkan diri dengan orang lain dalam berproses, aku jadi inget kata theoderick, dia bilang "gak semua orang bisa jadi kaya, karena start mereka beda-beda", artinya dalam berproses ada yang akan menghasilkan lebih cepat, sedikit lambat, dan lambat banget. yang penting jangan pernah berhenti. kalo kata gus Baha, beliau bilang "kunci nikmatnya hidup adalah jangan melihat kenikmatan orang lain".
semangat untuk kita sebagai orang dewasa!!!!